Minggu, 20 November 2016

FATAYAT READING CORNER



Bekerja sama dengan Hasfa, Fatayat segera membuka FATAYAT READING CORNER (taman bacaan dan perpustakaan). Agar lebih efektif efisien dalam mengelola baik tempat maupun penjagaan, perawatan serta peminjaman dan pengembalian, maka akan diselenggarakan di Hasfa Camp Perum Wijaya Kusuma II Cempaka 8/D3.

Bagi teman-teman Fatayat yang berkenan menjadi sukarelawan pustakawan taman bacaan ini, silakan hubungi Dian Nafi (ketua Bidang Riset Dan Pengembangan Fatayat NU Cabang Demak) via wa/sms 085701591957 atau pin 5A7D226E.

Buat yang mau langsung cap cus pinjam buku, silakan langsung datang ya. Kehadiran kalian akan sangat berarti ^_^

Yang mau menyumbang buku, juga boleh, kami akan dengan tangan terbuka menyambut kebaikan dan kedermawanannya. Jazakumullah khoiron katsiron. 


FATAYAT READING CORNER

FATAYAT READING CORNER Bekerja sama dengan Hasfa , Fatayat segera membuka FATAYAT READING CORNER (taman bacaan dan perpustakaan). Agar...

Rabu, 21 September 2016

Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto menyelenggarakan Lomba Baca Puisi se- Jawa Tengah dan DIY. Lomba ini merupakan rangkaian acara Pesantren Menulis 3 Pesma An Najah yang bertajuk “Cinta dan Sastra untuk Dunia”.

🔴Adapun Syaratnya adalah sebagai berikut:
🔸Peserta berasal dari Sekolah yang berada di wilayah provinsi Jawa Tengah dan DIY
🔸Peserta adalah siswa SMA/ SMK/MA/Sederajat.
🔸Peserta wajib membayar biaya pendaftaran 40.000
🔸Pendaftaran bisa melalui sms/email/langsung datang ke kesekretariatan
🔸Waktu pendaftaran paling akhir 30 September 2016

🔴Pelaksanaan Lomba:
🔸Pelaksanaan Technical Meeting pada hari Jumat, 14 Oktober 2016 pukul 08.00 – Selesai. Bertempat di PESMA An Najah
🔸Pelaksanaan lomba pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016 pukul 08.30-selesai di Aula Pesma An Najah.

🔴Para Pemenang berhak mendapatkan:
🔸Juara ke-1 mendapatkan trophy, sertifikat pemenang dan uang tunai Rp.1.000.000,-
🔸Juara ke-2 mendapatkan trophy, sertifikat pemenang dan uang tunai Rp. 750.000,-
🔸Juara ke-3 mendapatkan trophy, sertifikat pemenang dan uang tunai Rp. 500.000,-

🔴Info lebih lanjut bisa di lihat:
🔹Blog: pesantrenmenulis3.blogspot.com
🔹website: pesmaannajah.or.id

🔴Contact Person:
Faishal Danial (085726579406)
Yuyun Zuniar K. (085842798418)

Lomba Menulis Puisi

Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto menyelenggarakan Lomba Baca Puisi se- Jawa Tengah dan DIY. Lomba ini merupakan rangkaian acara Pesan...

Minggu, 29 Mei 2016

Hukuman yang tidak terasa

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
"Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita".

Sang Guru menjawab dengan tenang:
"Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa".

"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan".

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari "kekerasan hatinya dan kematian hatinya".

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya?

Sadatkah engkau tidak diberikan rasa khusyu' dalam shalat?

Sadarkah engkau, bahwa  beberapa hari-harimu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah".

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya.

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang.

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya?

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu?
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)?

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya?

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu?

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini?

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram?

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi?

Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya.

Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.

Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah:
"Hukuman yang terasa" pada harta, atau anak, atau kesehatan.

Sesungguhnya hukuman terberat ialah: "Hukuman yang tidak terasa" pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.

Karena itu wahai anakku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu.

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-'Aidan di Masjidil Haram)

#coppasaja

Hukuman yang tidak terasa

Hukuman yang tidak terasa HUKUMAN YANG TIDAK TERASA Seorang murid mengadu kepada gurunya : "Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepa...

Rabu, 27 April 2016

Takziyah untuk Prof. Dr. KH. Ali Mushthofa Yaqub. MA

Posting salah satu perjalanan beliau dg Gus Dur. Artikel ini diperoleh dari web IIQ Jakarta. Mohon ijin.

Antara Gus Dur dan Prof. Dr. KH. Ali Mushthofa Yaqub. MA

Seorang Kawan bertanya kepada Kiai Ali Mustafa Yaqub:

“Pada waktu rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghadap Presiden Soeharto, Ustadz menganjurkan agar nanti waktu bersalaman dengan Pak Harto, para ulama tidak membungkuk atau menundukkan kepala. Ternyata ketika berjabat dengan Gus Dur, Ustadz bukan saja membungkuk, tetapi justeru mencium tangan Gus Dur. Ini membuktikan bahwa Ustadz tidak konsisten terhadap pendapat Ustadz. Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

Kiai Ali Mustafa Ya’qub:

“Benar sekali yang anda sebutkan itu. Pada waktu MUI menghadap Pak Harto, kami memang punya sikap seperti itu. Sikap itu kami ambil dari keterangan Imam Nawawi dalam kitabnya, Al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, dimana beliau menuturkan bahwa di antara adab para ulama dan pengajar al-Qur’an itu adalah tidak boleh menghinakan diri dan ilmunya.
Bagi kami, Presiden itu adalah simbol kepemimpinan dunia, sedangkan ulama merupakan simbol kepemimpinan agama atau akhirat. Pimpinan agama tidak boleh merendahkan dirinya di hadapan pimpinan dunia, karena hal ini berarti merendahkan agama itu sendiri. Bahkan ada sebuah hadis menuturkan (yang artinya) “Seburuk-buruk umatku adalah ulama yang sering mendatangi penguasa” (HR. Ibn Majah).

Itulah pendapat kami tentang sikap yang harus dimiliki oleh ulama terhadap para penguasa. Meskipun dengan catatan bahwa hal itu tidak berarti meninggalkan sikap tawadhu. Ulama di hadapan penguasa tidak boleh menghinakan dirinya, tetapi harus tetap tawadhu. Sementara penguasa yang kami maksud itu bukanlah penguasa yang sekaligus ulama, yang pada waktu itu adalah Presiden Soeharto.

Karenanya, khusus untuk Gus Dur, beliau itu adalah ulama sebelum menjadi presiden. Apalagi khusus untuk kami, Gus Dur itu adalah guru kami. Kami menjadi murid beliau sejak tahun 1971. Kami belajar Bahasa Arab dan mengaji kitab Qatr al-Nada dari beliau.”

Kawan:
“Tetapi ustadz mencium tangan Gus Dur sampai dua kali. Begitu kami melihat di layar televisi. Apakah ini tidak berlebihan?”

Kiai Ali Mustafa Yaqub:

“Bukan Cuma dua kali kami mencium tangan Gus Dur, tetapi ribuan kali. Setiap kami bertemu beliau, sejak pertama kali kami bertemu beliau di Tebuireng tahun 1971, kami selalu mencium tangan beliau.

Tentang mencium tangan dua kali dalam acara malam itu, baiklah kami jelaskan, bahwa mencium tangan yang pertama itu atas inisiatif kami sendiri. Rasanya tidak etis, beliau itu guru kami, kami duduk dalam satu majelis dengan beliau, kemudian kami tidak menyalami beliau. Sementara beliau tahu bahwa kami ada di majelis itu. Sedangkan untuk mencium tangan yang kedua, karena kami dipanggil oleh beliau, beliau mau menanyakan sebuah istilah yang kami sebutkan dalam ceramah tadi. Dan apapun yang terjadi pada diri Gus Dur, baik beliau menjadi Presiden maupun rakyat biasa, beliau adalah tetap guru kami dan kami adalah santri atau murid beliau yang akan selalu menghormati beliau, meskipun kami tidak selamanya sependapat dengan beliau. Dan bagi kami, hal ini tidak menjadi masalah karena para ulama dulu tidak selamnya sependapat dengan gurunya. Sebut saja misalnya, Imam Ahmad bin Hanbal, beliau adalah murid Imam Syafi’i. Namun dalam berijtihad, Imam Ahmad bin Hanbal tidak selamanya sama dengan Imam Syafi’i. Bahkan kemudian Imam Ahmad bin Hanbal memiliki madzhab sendiri dalam bidang fiqh.”

Kawan:
“Dalam amanatnya, Gus Dur menyebut-nyebut Ustadz sebagai adik dalam pemikiran. Apa maksud beliau, karena ada yang menuduh selama ini beliau berpikiran sekuler. Apakah Ustadz juga adik dalam pemikiran sekuler?”

Kiai Ali Mustafa Yaqub:

“Sebenarnya beliau telah menjelaskan sendiri apa yang beliau maksud dengan adik dalam pemikiran itu. Beliau itu adalah murid dari Pro. Dr. Muhammad Musthafa Azami, seorang pakar Ilmu Hadis masa kini, kelahiran India. Beliau tampaknya juga mengagumi Azami. Beliaulah orang yang pertama kali memperkenalkan nama Azami di Indonesia, yaitu dalam acara Dies Natalis Universitas Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang, pada tahun 1972.
Beliau menyampaikan ceramah Dies Natalis dengan judul Sumbangan MM Azami dalam Penyelidikan Hadis. Acara Dies Natalis itu dihadiri oleh para pakar, para ulama, dan dua orang menteri waktu itu, yaitu Menteri Agama H. A. Mukti Ali dan Menteri Penerangan H. Budiarjo. Sementara kami sendiri waktu itu masih sebagai mahasiswa Fakultas Syari’ah Universitas Hasyim Asy’ari.

Ketika kami pulang dari belajar di Saudi Arabia pada tahun 1985, kami menemui Gus Dur di kantor PBNU. Kami ceritakan tentang hubungan kami dengan Prof. Dr. MM Azami, termasuk amanat beliau kepada kami untuk menerjemahkan kitab-kitabnya. Gus Dur sangat tertarik terhadap apa yang kami sampaikan, bahkan beliau punya keinginan untuk mengundang Prof. Dr. MM Azami suatu saat ke Indonesia. Gus Dur juga bercerita tentang ceramah Dies Natalis beliau tahun 1972 itu yang menurut beliau, “orang-orang nggak nyambung.”
Itulah hubungan kami dengan Gus Dur yang beliau sebut sebagai adik dalam pemikiran, yaitu pemikiran Ilmu Hadis, bukan pemikiran yang lain.”

(Ali Mustafa Yaqub, Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, Juli 2000), hal. 103-108)

imam besar Istiqlal KH Ali Yaqub

Takziyah untuk Prof. Dr. KH. Ali Mushthofa Yaqub. MA Posting salah satu perjalanan beliau dg Gus Dur. Artikel ini diperoleh dari web IIQ ...

Sabtu, 23 April 2016


Seminar Kebangsaan Di Hotel Pandanaran

Ratusan kader Fatayat lainnya hadir memenuhi ballroom Hotel Pandanaran Semarang. Seminar Kebangsaan ini digelar sehubungan dengan makin maraknya radikalisasi dan terorisme atas nama agama, sehingga NU (Nahdlatul Ulama) gencar berkampanye dan melakukan  berbagai rangkaian kegiatan untuk deradikalisasi. Antara lain  Ekspedisi Islam Nusantara yang keliling ke 40 kota kabupaten di Indonesia, berbagai program yang mengenalkan lebih jauh tentang Islam Nusantara, dan Dialog Lintas Iman dll.


Tema Seminar Kebangsaan kali ini adalah Penguatan kader Fatayat NU dalam rangka menangkal radikalisme berbasis agama.


Seminar Kebangsaan Di Hotel Pandanaran

Seminar Kebangsaan Di Hotel Pandanaran Ratusan kader Fatayat lainnya hadir memenuhi ballroom Hotel Pandanaran Semarang. Seminar Kebangsa...
Profil Nurul Hidayah



Nurul Hidayah
Ketua I Pengurus Cabang Fatayat Demak ini berdomisili di Karang Awen.
Selain bekerja sebagai pegawai  negeri sipil (PNS) di sebuah instansi, beliau juga mengelola lembaga penitipan anak dan PAUD di lingkungan tempat tinggalnya.


Profil Nurul Hidayah

Profil Nurul Hidayah Nurul Hidayah Ketua I Pengurus Cabang Fatayat Demak ini berdomisili di Karang Awen. Selain bekerja sebagai pegaw...

Jumat, 22 April 2016

RA Kartini nyantri pada Kyai Soleh Darat

Ketika RA Kartini belajar mengaji.

Suatu ketika RA Kartini mengikuti pengajian yang diberikan oleh Kyai Sholeh Darat di pendopo rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang juga merupakan pamannya.

Pada pengajian tersebut, Kartini yang mempunyai pembawaan kritis menyampaikan kegundahannya kepada Kyai Sholeh Darat bahwa selama ini dia dan masyarakat jawa pada umumnya belajar mengaji hanya membaca dan menghafalkan al Quran tanpa mengetahui maknanya.

Kegundahan Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar: menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa.

Kiai Sholeh Darat pun memutuskan untuk melanggar aturan Belanda saat itu yang tak mengijinkan penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa.

Supaya tidak mencolok, kyai Sholeh Darat menyamarkan terjemahan al Quran dalam bahasa Jawa tersebut dengan menuliskannya menggunakan alfabet arab. Bahasa jawa yang ditulis dengan alfabet arab ini dinamakan arab pegon yang sangat membantu orang jawa pada waktu itu dalam memahami al Quran.

Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama "Kitab Faidhur-Rohman" yang merupakan tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai hadiah perkawinan.              
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan salah satu tafsir ayat yang menggugah hati RA Kartini dan senantiasa diulang-ulangnya dalam berbagai suratnya kepada sahabat penanya di Belanda, yaitu surat Al Baqarah ayat 257.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).”

Kalimat: مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ (minazhzhulumaati ilannuur) dalam ayat tersebut dalam bahasa Belanda adalah : "Door Duisternis Toot Licht"  berarti dari kegelapan menuju cahaya (bukan habis gelap terbitlah terang).

Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyurat RA Kartini.

Selamat Hari Kartini ...

*)Kyai Shaleh Darat yang juga guru dari Kyai Hasyim Ashari dan Kyai Ahmad Dahlan ini wafat di Semarang pada18 Desember 1903 dan dimakamkan di pemakaman umum “Bergota” Semarang. dalam usia 83 tahun.

Selamat hari Kartini...👍🏽😄👍🏽

RA Kartini nyantri pada Kyai Soleh Darat

RA Kartini nyantri pada Kyai Soleh Darat Ketika RA Kartini belajar mengaji. Suatu ketika RA Kartini mengikuti pengajian yang diberikan ole...

 

Fatayat Kita © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates